AKU MAU



rindu


Aku tidak mengerti mengapa begitu banyak sekat yang menjadi batas antara mataku dan matamu untuk saling mengadu.

Ini bukan tentang jarak, namun tentang begitu banyaknya tebing yang seakan sengaja alam ciptakan agar untuk saling bercerita akan hidup kita masing-masing melalui tatapan bukanlah perkara mudah.

Telah lama kita lalui musim hujan dan kemarau bersama dalam sekat yang berbeda namun tetap dalam satu perasaan yang sama.

Aku jenuh karena setiap apa yang kutulis adalah tentang betapa aku merindukan kamu. Tentang segalamu yang benar-benar kuingat dengan jelas disetiap saat. Mengingatmu yang dengan wajah lesu namun bahagia menjemputku di sudut kota Surabaya. Mengingat binar matamu saat memandang langit penuh bintang. Mengingat suara teduhmu saat meredam segala penatku.

Aku jenuh karena setiap apa yang kutulis adalah tentang betapa aku merindukan kamu. Namun, bila aku tidak menuliskannya, aku bisa lebih menderita. Karena terlalu banyak kata-kata rindu yang membumbung di otakku. Tak sanggup aku tampung. Kemudian aku bisa saja gila bersama dengan kebisuan.

Jadi, bila untuk bersamamu selalu (agar tidak lagi perlu kutulis banyak kata-kata rindu) aku harus melewati banyak sekat yang membuatku jatuh maupun terluka, aku mau.


Oleh: Syarifah Aini, 2016 (langitkuitukamu) 

Baca juga: Ketika yang kamu cintai lebih bahagia tanpamu