KETIKA YANG KAMU CINTAI LEBIH BAHAGIA TANPAMU



cinta sejati

What if someone you love is happier without you? Will you leave?

Saya berulang kali membaca pertanyaan itu… dan berpikir. Akankah saya benar-benar bisa meninggalkan seseorang yang saya cinta, jika nyatanya ia lebih berbahagia tanpa saya? Hingga paragraf awal ini saya tulis, saya belum meyakini jawabannya.
Mungkin kita terlalu sering diajari mencinta, hingga lupa bahwa ada juga yang namanya mengikhlaskan dan merelakan. Pada bagian ini, saya bukan orang yang lihai melakukannya. Namun tak mungkin juga menjadi orang yang egois, memaksakan untuk bersama tanpa memikirkan apakah ia yang kita cinta juga merasakan bahagia yang sama.
Kita semua butuh merasa dibutuhkan, kita ingin merasa diinginkan, kita rindu untuk merasa dirindukan. Namun apalah artinya jika tanpa kata ‘saling’? Bukan berarti menuntut balasan dari yang kita rasakan atau lakukan, ‘saling’ disini lebih kepada tanpa paksaan, rela hati, bahkan merasa suka melakukannya.
Kembali ke pertanyaan awal. Jika ia yang kamu cinta lebih bahagia tanpa adanya dirimu, apakah kamu mau meninggalkannya? Susah memang, namun bukan berarti tak bisa. Toh, esensi meninggalkan dan ditinggalkan adalah “berbahagia tanpa”, bukan “bersedih dengan”.
Saya belajar banyak, banyak sekali. Menerima walau tak diterima, merelakan pergi ia yang menginginkan saya pergi, ikut berbahagia saat ia yang saya cinta berbahagia tanpa saya. Dan diakhir paragraf ini, saya menjawab pertanyaan tersebut dengan, “Iya, saya akan pergi. Berbahagialah kamu tanpa saya.”

“I will learn to love again. I will learn to love. I will learn.” 



Baca juga: Pesan Steve Jobs untuk kita sebelum beliau meninggal

0 Comments


EmoticonEmoticon