Ketika Lelakimu Datang Bertamu (2)


Padamu, perempuanku.

Sesuai janjiku tempo hari setelah tulisan sebelumnya, kiranya berkenan olehmu untuk memberiku kesempatan menceritakan apa yang kurasakan setelah bertamu ke rumahmu kala itu. Apakah kau penasaran juga tentang itu? Memang, semua itu juga seakan terjadi diluar prakarsaku. Ada semacam ilham yang membuatku harus melakukannya, panggilan jiwa lebih tepatnya, selain pula rasa malu yang terus mendera.

Baiklah, kiranya kuceritakan saja, ya?

Aku tahu, aku sebenarnya lelaki pemalu. Aku bukan seperti teman-teman lelakimu yang begitu penuh jam terbang dalam menjalin hubungan, namun aku juga bukan seorang lelaki yang kuat betul hidup dalam kesendirian. Selama ini aku hanya mencoba mencari kesibukan berarti, begitupun tampaknya kau selama ini.

Suatu kali, seakan-akan jalan menujumu terbuka setelah kurasakan nyaman kala menyapamu ringan hingga menceritakan hari-hari yang dilalui bersama. Akupun merasakannya, barangkali kau juga? Rasa yang tertambat perlahan, namun begitu sulit sekali dibahasakan. Kau bilang jalani saja, seperti semilir angin senja. Dan aku setuju, sedangkan kau tersenyum dari bilangan jarak tertentu. Aku mengangguk, memahami kedekatan yang seakan tak perlu dilihat dari dekat. Mungkin kau hendak menjaga dirimu, aku tak tahu. Yang jelas, itu mungkin lebih selamat dan menyelamatkan bagimu.

Ah, waktu pun berlalu. Hampir semua orang tahu, cerita kau dan aku. Teman-temanku mulai menyikut, bertanya bagaimana caranya mendapatkan perhatianmu. Aku hanya tertawa, entah mudah atau tidak, toh aku sudah menjalaninya. Kicauan itu seakan tak berarti lagi, biasa saja. Padahal aku sendiri tahu persis selama ini membangun hubungan dengan perempuan hanya mentok pada pertemanan. Maka, bolehkah aku sedikit bangga pada sosokmu, perempuanku?

Tapi suatu kali aku malu benar rasanya, mengingat saran teman-temanku yang lain soal kedekatan yang sudah terlampau larut ini. Muncul pertanyaan dalam benak, apakah aku akan segera memastikanmu? Memastikanmu betul dalam genggaman erat dibawah naungan restu Tuhan beserta kedua keluarga, bukan restu sekedar “cieee-cieee” bermakna kosong dari teman-teman saja. Aku terhenyak dan berpikir dalam, sedangkan aku saja belum selesai pada diriku sendiri. Bagaimanakah ini, sedang semua sudah berlanjut lebih lama dari yang kukira. Bila aku menjadi kau, maka mungkin akan kutanyakan juga kepastian ini, meski sampai sekarang tak ada tanda-tanda darimu untuk menanyakannya. Mungkinkah kau sekian lama ini bersabar untuk menungguku?

Karena itulah bulat bagiku untuk melangkah lebih jauh, setidaknya untukku lebih dalam mengenalmu. Aku ingin tahu keluargamu, bagaimana rupa Ayahmu, bagaimana wajah Ibumu, barangkali pula disana ada kakak atau adikmu. Aku ingin kenal saja, merasakan hal yang belum kurasa sebelumnya tentang mengenal orang-orang terdekat yang mencintaimu. Diluar sana, masih saja ada lelaki yang mengumbar janji dan terlampau dekat pada perempuannya, namun mengenalkan diri pada keluarga perempuannya saja enggan. Sedangkan aku, meski tidak jauh lebih baik, setidaknya tidak berjanji apapun dan tidak melakukan macam-macam padamu tapi sudah berani untuk berkenalan dengan keluargamu, juga setidaknya Ayah dan Ibumu tahu siapa lelaki yang berani-berani mencuri hati anak perempuannya itu~

Bukan mudah meyakinkan diriku sendiri tentang ini. Memang, aku berkali-kali pernah bertamu ke rumah perempuan, tapi tak seperti ini. Mungkin telah puluhan kali juga aku mencium tangan para Ayah dan Ibu, tapi tak se-istimewa ini. Bila aku memang bertamu ke rumah perempuan sebelumnya, paling-paling hanya mengerjakan tugas kelompok bersama, berkenalan dengan orang tua mereka sekenanya saja, dan tak ada rasa apa-apa. Tapi ini jelas berbeda, dengan maksudku yang hanya untuk mengenalkan diriku saja! Kupahami sikapmu yang terkejut seperti awan tenang tersapu angin ribut, menanyakan bahwa apakah aku benar-benar yakin ingin bertamu? Jawabku, ya. Aku sudah bulat betul ingin datang ke rumahmu, perempuanku…

….

Hari itupun tiba. Aku tak melewatkan suatu apa. Aku tiba persis di hadapan rumahmu tanpa terlambat, tanpa tersesat. Tapi kurasakan betul badanku bergetar hebat. Kubilang aku sedari awal pemalu tapi aku sudah sejauh ini, aku pun tak peduli bila sebagian lelaki di dunia ini menertawakanku sore itu karena memang rasanya pertama kali itu begini dan harus kuhadapi. Tampak kau menunggu di beranda dengan senyuman termanis, sedangkan aku hanya mengangguk ragu, selangkah demi selangkah mendekati pintu rumahmu. Gelagapan aku mengucap salam, karena disampingmu telah ada dua sosok yang mencintai dan menjagamu, yang ingin kukenal itu.

Kuciumi tangan Ayahmu, memang sudah tak kekar lagi, tapi masih menyisakan ketegasan. Kuciumi tangan Ibumu, ada rona kelembutan sekaligus kekuatan yang begitu besar rasanya. Kupandangi mata mereka dan kulihat ada binar yang berbeda, semacam pandangannya pada anaknya sendiri. Inginku rasanya berterima kasih pada mereka, pada Ibumu yang telah melahirkanmu dan merawatmu hingga secantik sekarang ini, juga pada Ayahmu yang telah menjagamu dan memastikan kebutuhan hidupmu hingga sedewasa sekarang ini.

Entah, meski tak kuucapkan benar, hanya tersenyum lama dan membungkuk saja di hadapan kedua orang yang kini kuhormati itu. Tak lupa sedikit oleh-oleh pemberian dari Ibuku membuat tatapan kedua mata mereka semakin hangat saja..

Setelah dipersilakan duduk, aku mengenalkan diri terbata-bata. Tahukah kau, begitu sulit diriku untuk menguasai diriku sendiri. Menyegaja bertemu kedua orang tuamu, hanya untuk mengenalkan diri ini. Bisakah kau membayangkan rasanya? Ah mungkin tidak, karena kau sendiri malah kabur dan bersembunyi, sayang sekali. Tinggal lah kami bertiga di ruang tamu, hingga segalanya harus dimulai olehku.

Pada waktunya, ternyata semua lancar-lancar saja tak seperti yang kuduga seperti di adegan drama. Aku merasa tak tersudutkan seperti pemeran lelaki yang mendatangi calon mertua. Dengan hangat, Ayah dan Ibumu bergantian bertanya tentang aku, aktivitasku, dan keluargaku. Satu hal saja yang tergagap aku menjelaskannya, ketika Ayahmu bertanya tentang sejauh mana kedekatanku padamu. Sisanya, hanya hal kecil yang menjadi pelengkap, bahkan sempat-sempatnya bercanda dan tertawa seperti sudah satu keluarga dekat. Semuanya ternyata dapat kuatasi, sindrom pada hal-hal yang pertama kali kulakukan tak datang lagi.

Hingga pada waktunya, aku berpamitan pulang. Kali ini yang mengantarkan hanya orangtuamu, sedangkan kau kulihat sedang sembunyi dibalik pintu, tampak malu-malu. Sudahlah tak apa, setidaknya hilang sudah bebanku. Dengan lega aku pergi meninggalkan rumahmu, seiring kesan pertama itu akan selalu kuingat dalam benak. Bisakah kau membayangkan bagaimana rasanya? Cobalah nanti bertamu sekali waktu ke rumahku, lalu berkenalanlah dengan Ayah Ibuku. Tapi kupastikan, aku takkan sembunyi dibalik pintu~

….

Perempuanku,

Sepulang dari rumahmu, aku tak berteriak lega. Malah harus kau tahu, semakin dalam aku berpikir dan menyadari diri.

Teringat betul olehku ketika Ayahmu bertanya apa aktivitasku sekarang. Kusadari, aku masih dalam proses belajar, belum bekerja, jelas tak punya apa-apa. Hitunganku ada pada diriku sendiri, bukan pada harta orangtuaku. Kusadari betul bahwa aku tak punya apa-apa dan belum jadi siapa-siapa. Meski adegan drama yang kuingat seperti “Sudah punya apa kamu, beraninya dekat-dekat anak saya” tak terucap dari bibir Ayahmu, jelaslah sudah maksudnya pun sama. Pola pikir lelaki akan selalu sama, seperti yang juga kusetujui, bahwa kemapanan seorang lelaki akan jadi pondasi harga diri. Bukan soal harta benda, melainkan sikap dan karakter dalam memandang kemapanan sebagai konstruksi hidup yang utama. Ayahmu mungkin tak mau, bahwa nanti anak perempuannya hanya makan kata-kata cinta.

Teringat juga olehku ketika Ibumu berpesan padaku untuk menjaga dirimu. Mungkin aku bukan siapa-siapa, bukan yang berkewajiban menjagamu layaknya Ayah dan kakak lelakimu. Tapi Ibumu seakan percaya padaku, itu saja. Berpanjang lebar pesannya yang kusimpulkan yaitu menjagamu sebaik mungkin. Juga secara harfiah, mungkin ibumu meminta pula agar jangan sampai aku menyakiti hatimu. Takzim aku mendengarkan, sebagaimana berat rasanya isi pesan itu. Ibumu mungkin tak mau, bahwa nanti anak perempuannya akan pulang kepangkuannya dan menangisi sakit hati yang dideritanya.

Oh… masygul aku dibuatnya. Kusimpulkan saja, pesan kedua orang tuamu hanyalah satu, yaitu arti sebuah tanggung jawab. Pelajaran penting bagiku tentang bagaimana aku memandang diriku sendiri sekaligus arti kehadiranmu disana. Mulai timbul pula proyeksi jangka panjang yang belum terpikirkan olehku sebelumnya. Rasanya, proses pendewasaan ini harus benar-benar kujalani, tentang betapa besarnya tanggung jawabku sebagai seorang lelaki.

Meski maaf, perempuanku, aku belum menjanjikan apa-apa sebagaimana aku juga belum meminta apa-apa dari orang tuamu. Karena aku belum selesai pada diriku sendiri, maka sepatutnya lah aku diam. Semoga engkau paham.

Hingga, Tuhanlah yang nanti akan menunjukkan jalan.

Oleh: Miftahul Fikri