Ketika Lelakimu Datang Bertamu (1)


Padamu, Ladies.

Mungkin kau baru saja mengalaminya, bahwa telah ada seseorang lelaki yang datang ke rumahmu. Teringat dalam benakmu, sikapnya yang benar-benar lucu, ketika datang dan pulangnya serasa sama tergugu. Ah, kau hanya bersembunyi kan di pojok pintu? Cekikikan melihat lelakimu yang telah meninggakan kesan pertama di ruang tamu rumahmu. Seiring ia telah berlalu, telah kau temukan apa yang telah merubah penilaianmu padanya…

~

Ladies, kuberitahu saja, banyak tipe lelaki di dunia ini. Aku takkan menjelaskan padamu semuanya, tapi tentu yang menarik perhatianmu adalah lelaki yang aslinya pemalu namun sejauh ini telah meninggalkan kemajuan berarti ketika berhubungan denganmu. Bisa jadi, diantara banyak lelaki, ada perempuan yang menjatuhkan hati pada lelaki pemalu. Lelaki yang tak banyak bicara, tak banyak gaya, sedikit tertutup, namun tentunya membuatmu tertarik. Bisa jadi memang dia lelaki favoritmu, yang dapat menutupi benar apa kekuranganmu dan membuatmu merasa nyaman berada di sekitarnya selama ini.


Entah selama ini bagaimana cara kalian berhubungan, mungkin agak sulit didefinisikan. Berteman iya, tapi seperti lebih dekat dari itu. Tapi tak kunjung pula memastikan, saking pemalunya dia. Hanya saja kalian merasa nyaman dengan hubungan yang tampak biasa saja, dengan jarak dan sekat yang disepakati bersama. Ah, ternyata ada juga kan sebagian perempuan yang meyakinkan dirinya bahwa kepastian terbesar yang sesungguhnya adalah pernikahan? Karena ijab qabul lebih sakral daripada apapun bentuk ungkapan cinta yang ada. Jadi selain itu, tak dianggap hal yang pasti-pasti amat, bahkan mungkin diragukan.


Begitulah mungkin cara kalian berhubungan. Dekat dalam rentangan jarak. Merasa tak perlu bertemu, apalagi bercumbu. Kalian sadar betul bahwa jalinan hati yang ada tak pernah diketahui dan bisa diprediksikan. Mengalir begitu saja seiring kedewasaan yang menanjak, antara keterbukaan dua hati yang tak dapat begitu saja ditolak. Ditengah kesibukan yang ada, tentu tak sungkan rasanya berbagi kabar dan bercerita ringan tentang hari-hari yang telah terlewati. Begitu saja, seperti semilir angin di sore hari.


Tapi hari itu, tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba lelakimu mengabarkan bahwa ia ingin datang. Semacam guruh bergemuruh, gelagapan kau meyakinkannya, apakah benar itu, apa lelakimu tidak salah ketik? Dengan mantap, ternyata ia menjawab iya. Meski terbayang olehmu, tempo hari ketika ia duduk makan bersama denganmu di sebuah kantin, sikapnya saja salah tingkah bahkan hingga ditertawakan teman-temanmu…

“Apakah benar? Apa maumu?”

Meski masih bertanya-tanya, mau tidak mau, kau bersiap untuk kedatangannya. Bukan main, campur aduknya hatimu karenanya. Dia mungkin bukan lelaki pertama yang datang kerumah, entah mungkin ada belasan lelaki yang sudah bertamu, tapi itu sudah bertahun yang lalu ketika masih sekolah dasar, sepertinya. Ketika itu masih anak-anak, ramai lelaki yang datang untuk mengajakmu bermain di lapangan komplek. Setelahnya, tak ada lagi lelaki yang sengaja datang seingatmu. Dan kau sadar betul, di umurmu yang telah masuk kepala dua lebih ini, lelaki yang sengaja datang tentu tak biasa, seperti desiran hatimu yang juga tak biasa.

Orangtuamu pun rasanya tak kepalang bingung. Siapa lelaki yang akan datang ini? Kau bilang, mungkin kenalanmu, karena ragu atas statusmu dengannya. Tapi tak lama setelah itu orangtuamu pun tersenyum, mengangguk berdua tanda telah paham. Meskipun kau tak terlalu paham, justru orangtuamu menyuruh mempersiapkan kedatangannya dengan baik. Ayahmu begitu antusias, apalagi Ibumu. Kau pun termangu, kenapa yang bersemangat itu justru Ayah dan Ibu? Ah sudahlah, rasanya deburan hatimu kian tak menentu…

Ladies,

Hingga hari itu pun datang juga. Kau memastikan betul lelakimu tak salah alamat. Kau ada di barisan paling depan ketika datang menjemputnya, tapi bersembunyi paling awal ketika sudah masuk kerumah. Oh ladies, mengapa kau begitu tega membiarkan lelakimu langsung bertemu dengan kedua orangtuamu tanpa ditemani? Mungkin kau begitu malu, tapi tentu saja lelakimu itu lebih malu. Tak kurang gemetar tubuhnya ketika bersalaman dengan tangan kekar Ayahmu dan tangan lembut Ibumu. Rasanya kau pun tak sanggup melihat matanya, lalu kabur begitu saja, bersembunyi namun mencuri dengar dengan tetap pasang telinga.


Ladies, meski kau tak disana, dengarkanlah lelakimu membuka percakapan dengan kedua orang tuamu. Ternyata, ia tak seperti yang kau duga. Ternyata ia lebih ramah dari yang kau kenal, bisa memposisikan diri dengan nyaman, berbicara seperlunya namun meyakinkan. Meski kau tak lihat sikap tubuhnya, tapi tentu pembicaraan itu mengarah pada keakraban antara lelakimu dan kedua orang tuamu. Tak pelak, hari yang kau sangka akan seperti kiamat ternyata berjalan lancar, seakan-akan lelakimu itu telah biasa dan mampu mengendalikan dirinya. Kaupun tak percaya, ia yang selama ini tertutup menguncup, hari ini membuka dirinya lebar-lebar dihadapan orang tuamu dengan begitu mengesankan.

….........

Ah ladies, tiba waktu lelakimu pamit. Memang tak lama, tapi begitu meninggalkan kesan buatmu. Seketika ia berlalu, dan kau lihat sikapnya masih sama seperti seorang pemalu, tapi seperti ada kelegaan di pelupuk matanya juga dari guratan senyum di wajahnya. Ia pun pulang, tapi hatimu makin berdebar kencang. Ayahmu mungkin diam saja, tapi ibumu tersenyum amat manisnya. Ah, seakan tak mampu dibahasakan..

Maka ladies,

Tak mudah bagi seorang lelaki menaklukkan dirinya. Tak semua lelaki juga berani menampakkan diri pada orangtua perempuannya, kecuali yang benar-benar bulat dan memiliki maksud. Apalagi lelaki pemalu, maka kau harus tahu bahwa keyakinannya telah menang atas keraguan. Bila genap sudah janjinya untuk datang bertamu, maka lelakimu itu telah selangkah lebih maju, pun selangkah lebih dewasa dalam menyikapi hubungan. Caranya mengenalkan diri pada kedua orangtuamu, secara tidak langsung adalah menunjukkan dirinya yang telah menjadi seseorang penting dan dekat untukmu. Meski jalannya masih jauh, setidaknya engkau bisa jadi lebih yakin akan tujuannya. Berbahagialah, semoga memang dia yang sedang berusaha menujumu..


Ladies,

Hari ini hanya kuceritakan kisah dari sudut pandang orang ketiga. Nanti, akan kuceritakan pandangan lelakimu dari sisi orang pertama. Mungkin kau begitu penasaran, apa isi kepalanya dan bagaimana perasaannya ketika pertama kali bertamu kerumahmu. Apakah kau ingin tahu?

Dariku,
Sahabatmu
Lanjut Baca Bagian 2: Ketika Lelakimu Datang Bertamu (2)

#miftahulfikri