Nada Pedihku


Jika aku boleh meminta sekali lagi, Tuhan… Aku mohon, biarkan kami bahagia dengan hidup kami saat ini.

Aku tidak bisa lagi berlari dari ketetapanNya. Mungkin benar kata orang bijak, bahwa setiap keinginan sayangnya tidak selalu terwujudkan. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Kehilangan bukanlah hal yang mudah untuk aku terima. Ini bukan untuk pertama kalinya, tapi tetap saja, kehilangan itu meninggalkan luka dan duka yang sulit untuk aku anggap biasa saja. Aku hampir menyerah, aku mengaku kalah. Jika saja boleh, aku ingin menutup mata sedalam-dalamnya dan mengingkari dunia.

Jatuh untuk kedua kalinya dalam lubang yang sama adalah sebuah pukulan yang mematikan. Aku harus menerimanya dengan sisa-sisa kelapangan hati yang masih kumiliki karena sekeras apapun aku menolaknya, kenyataan tak pernah berubah sesuai dengan yang aku harapkan. Kadang aku berpikir, mengapa Ia begitu rajin menguji aku yang berkali-kali terjatuh dan harus merangkak untuk kembali pada kehidupanku. Masih kurangkah? Masih belum cukupkah? Hidup adalah perjuangan, tapi jika aku harus memulai semua seperti hari-hari ketika aku jatuh dan tak bisa berdiri lagi, sepertinya aku akan menyerah pada titik dimana aku tak bisa menemukan diriku lagi.

Mereka selalu mencoba membuat aku percaya bahwa mereka tidak akan kemana-mana. Selalu berada di sisiku seperti biasanya. Tetapi mereka lupa, lupa bahwa hidup memang menghadirkan kehilangan, mendapatkan, ditinggalkan, dan meninggalkan. Mereka lupa bahwa aku pernah dijanjikan seperti itu, mereka lupa bahwa waktu selalu bisa merubah segalanya. Aku sudah mencoba percaya bahwa mereka akan selalu ada, menghadirkan cinta, membawa aku pada pelukan hangat bila aku merasa kedinginan, menjadi tempat aku pulang ketika aku merasa lelah dan nyaris menyerah. Tetapi sekali lagi, waktu dapat merubah segalanya. Tak ada lagi berbagi, dulu cinta kini benci. Mudah saja, semua terjadi tanpa kata permisi.

Sekejam itu waktu yang tidak memiliki toleransi. Banyak yang berkata, masa lalu hanya lembaran usang yang tak berarti apa-apa. Nyatanya, masa lalu adalah media pembentuk dimana aku, kamu, dan mereka berdiri sekarang. Mungkin, Tuhan ingin aku menjadi pria yang tegar dengan kehilangan berulang-ulang. Mungkin juga Ia ingin aku menjadi pria yang jauh lebih dewasa dari sebelumnya. 

Tuhan selalu tahu apa yang terbaik, tetapi aku selalu tak siap dengan sepi yang merebak tiba-tiba kala aku seorang diri. Kehilangan adalah tidak menemukan apa yang kita miliki. Jika benar seperti itu, aku tak ingin memiliki dan dimiliki lagi. Biar saja aku seperti ini, kehilangan…. Meninggalkan… atau Ditinggalkan..

Semua hanya menghadirkan perih..

Ini adalah masa dimana aku harus kembali merangkak, meraba, dan mencoba untuk mengumpulkan sisa-sisa ketegaran yang aku punya. Aku ingin hidup, aku ingin menyaksikan keajaibanNya. Aku percaya, jika hari ini aku tertawa, akan ada tangis yang menyertainya. Untuk itu, aku ingin melihat… Melihat Ia menghadirkan kebahagiaan yang dulu lenyap terhempas badai kehidupan. Aku rasa, ujian tak akan pernah cukup menimpa kita. Tapi aku percaya, Ia selalu menyertakan kekuatan selama kita percaya dan masih ingin berjuang.

Tuhan… Aku sudah berjuang. Bolehkah aku meminta sekali lagi? Jika kelak aku harus kehilangan dan terjerembab lagi, maukah Engkau menuntunku untuk kembali berserah padaMu? Atau… Jika boleh, Tuhan. Bawa saja aku pergi bersamaMu, agar kelak mereka tahu seperti apa rasanya menjadi aku.
Source By: Google