Kepada: A


Aku tidak butuh kamu dengan sosok sempurna tak tergapai. Aku hanya mau kamu yang sederhana seperti dulu yang menitipkan harapannya padaku untuk berjalan bersama. Pelan-pelan.

Sebutlah aku bermimpi. Bermimpi api harapan bisa berkobar lagi pada sosok yang sama. Memang kejujuran seringkali menyakitkan, tapi kepura-puraan perlahan membunuh.

Kamu…
Jika memang benar dirimu hanyalah pura-pura, tentu hatiku sudah benar-benar mati sekarang. Dengan harapan yang kau lambungkan tinggi sejak lama namun tetiba kau hempaskan begitu saja. Sakitnya luar biasa.

Kepura-puraan hati dan pikiranmu menuju padaku. Apa maksud dibalik itu? Menertawakan aku di balik punggungku? Jika dulu kau jujur padaku, aku akan menahan hatiku agar tidak terus berjalan menujumu. Aku akan menahan pikiranku menyusun skenario hidup bersamamu. Tapi kau pura-pura. Dan aku dengan bodohnya percaya.

Kau sembunyikan kejujuran dan masalah lalu membungkusnya dengan kertas kado manis. Apa yang kau harapkan? Agar aku tidak lagi menangis? Apakah kau tahu, bahwa hatiku sekarang mati dengan tragis?

Lalu, kau mengakui segala kepura-puraan. Membuat segala yang kau lontarkan sebelumnya semacam tipuan belaka. Tak ada lagi yang bisa aku percaya. Tapi hingga tarikan nafasku kini, aku masih berharap kepura-puraanmu hanyalah pura-pura. Harapan yang aku amankan di sudut hatiku terdalam.

Kini, akulah yang hidup dalam dunia pura-pura. Berjalan penuh semangat namun tanpa tujuan. Tersenyum begitu bahagia menahan tangisan dengan membekap hati yang menjerit perih. Aku sudah gila. Hanya karena satu kata pura-pura. Tapi kegilaan itu nyata.

Tapi, apakah kau tahu? Hanya Tuhan yang memahami, bahwa segala kepura-puraanku itu hanya pura-pura. Seperti milikmu. Ya, aku harap begitu.


Source: Special K