Duhai, Kamu.


Untuk sebuah alasan, aku memilih diam dan bertahan. Aku tahu, kehidupan bergerak dalam pola sebab-akibat. Tapi untuk kepergianmu, aku ingin menjadi diam untuk sementara waktu. Mendinginkan seisi kepala yang membara oleh bayanganmu yang melangkah menjauh dariku. Seperti deburan ombak yang melawan semesta.

Untuk sebuah alasan, aku memilih meremuk lembar demi lembar waktu yang kian lalu, menuliskan jarak-jarak yang membentang di antara kita. Duhai kamu, gadis berkacamata yang sekian bulan mengisi kertas-kertas berisi perasaanku, sampai kapan mau menghilang? Tidakkah bangku di bawah pohon pinus lebih baik daripada dingin kamarmu?

Sejenak, ketika temanmu berbisik padaku bahwa pilihanmu sudah semakin nyata dan bukan aku, saat itu juga kutahu bahwa ada yang salah dengan hidup ini. Mengapa setiap pilihan tercipta di mana aku salah satunya, jawaban yang mereka ucapkan selalu bukan aku?

Tapi, untuk sebuah alasan, aku memilih menunggu. Barangkali kamu mau mengubah pikiranmu dan berpaling padaku. Walaupun hanya sejenak. Itu sudah cukup. Membuatku punya arti di matamu. 

Sekali saja, dan setelah itu aku yang pergi.

Duhai kamu, sekali lagi, tersenyumlah padaku.



Djakarta,
1 Mei 2017

0 Comments


EmoticonEmoticon