Padahal, dulu kita juga pernah sebahagia itu


Beberapa minggu yang lalu, aku melihat potretmu bersamanya. Lenganmu di pundaknya. Sementara tangannya menggamit pinggangmu. Entah momen apa yang kalian rekam dalam potret itu, rasanya aku ingin mengetahuinya. Dan hal yang membuatku mendadak tidak karuan adalah kedua bibir kalian saling bertukar senyum. Bahagia. 

Padahal, dulu kita juga pernah sebahagia itu. 

Sudah lama sekali rasanya hari-hari berlalu. Aku pun telah lama memutuskan berhenti menjadikanmu duniaku, walau sesekali masih mengorbit pada dirimu. Lalu, potret itu berhasil membuatku muram. Bukan. Bukan karena dia memelukmu, tapi karena kamu membiarkannya memelukmu. 

Padahal, di waktu yang sama aku juga sangat ingin dipeluk… olehmu. 

Hal yang membuatku sedih adalah ketika kamu memamerkan kebahagiaanmu dengannya, lalu mengabaikanku. Seakan-akan aku tercipta hanya untuk dilewati olehmu. Aku tidak peduli kamu bersama si ini atau si itu, tapi aku benci saat kamu bisa dengan seenaknya datang, membuatku jungkir balik, lantas pergi begitu saja. 

Padahal, aku telah percaya kamu tidak akan sejahat itu padaku. 

Pilihannya selalu ada di tanganmu, kasih. Tetap menyayangimu setelah dibuat berantakan adalah pilihanku. Aku berusaha untuk ada, sesibuk apapun aku, se-bad mood apapun aku, sekacau apapun aku. Tapi kamu tidak ada. Tidak mencariku meski punya waktu luang. Lalu, aku memaksa diri untuk tidak lagi menyapamu, karena merasa tidak benar-benar diinginkan olehmu. 

Padahal, aku sedang sayang-sayangnya dengan kamu. 

Ah lucu sekali rasanya, ketika melihat sebuah potret saja mampu membangkitkan kenangan dan rasa-rasa yang tertinggal. Namun jujur, detik ini, aku bersyukur, karena berkatmu, tulisan-tulisan ini ada. Secepatnya aku akan menyusulmu bahagia. Maka dari itu, aku berani mengambil langkah untuk mencintai orang lain, agar kamu tidak melihatku sebagai perempuan lemah yang ingin dicintai. 

Padahal, aku belum sanggup menyayangi orang lain sebesar aku menyayangimu dulu.

0 Comments


EmoticonEmoticon