Luka Membuatku Memandang Cinta Dengan Mata Berbeda


Luka membuatku memandang cinta dengan mata berbeda. Mata penuh kecewa. Mata sinis yang membara, siap membakar siapa saja. Sejak berpisah dengannya, sulit bagiku melihat cinta. Bahkan ketika seseorang datang menghampiriku dan meyakinkanku ada cinta yang baik untukku, yang kulihat hanya kebohongan belaka.

Sejak malam-malam panjang yang menyakitkan, aku tak pernah lagi menangis. Kusembunyikan diriku di balik tembok besar. Kukunci hatiku dari siapa pun yang datang. Kujaga ia agar tak jatuh lagi, tak kecewa lagi, tak sakit lagi. Maka hari-hariku berjalan biasa saja, tanpa bahagia, tanpa sedih, datar saja. 

Tapi malam ini, aku ingin sekali menangis. Kubaca media online yang memberitakan penderitaan, kulihat media sosial yang memuat kisah sedih, namun air mataku tak jatuh juga. Lalu seorang kawan memberitahuku kedai di pojok kota. Dan tibalah aku di sini. Di tempat ini. Duduk di bar. Memesan segelas air mata.

Kuteguk perlahan. Pada setiap tegukan, satu kepingan puzzle yang hilang kini kembali. Kuteguk lagi, lagi, dan lagi, hingga seluruh keping kesedihan memenuhi kepalaku. Aku menangis sejadi-jadinya. 

Setelah sesak hilang dan air mataku reda, kupesan lagi segelas air mata. Kali ini, kuharap kepingan puzzle bahagia yang jatuh di kepalaku. Jika aku menangis lagi, aku ingin manangis karena mengingat banyak hal bahagia di hidupku. Salah satunya, kamu.



Source: Rumahsepi

0 Comments


EmoticonEmoticon