Mulutmu Serupa Hujan Yang Menyapa Pepohonan


Dulu, mulutmu serupa hujan yang menyapa pepohonan. Membawa serta hawa sejuk yang membuatku terjebak dalam buaian. Membuat mataku seakan-akan melihat kebersamaan kita di masa depan.

Tapi kini aku mengerti, bahwa mulut selamanya akan tetap menjadi mulut. Pekerjaannya hanya membual tanpa arti. Meniupkan seberkas angin segar yang hinggap di dalam rumitnya belantara hati. Singgah sejenak, kemudian pergi meninggalkan jejak-jejak goresan; Perih.

Kini kau telah pergi. Meninggalkan segenggam tanya yang hingga sekarang tak pernah aku mengerti. Tapi aku telah banyak belajar darimu. Bahwa hanya hati yang lemah yang pada akhirnya akan berubah, melepas genggaman yang tadinya erat. Dan hanya hati yang kuat yang mampu bertahan, menggenggam erat harapan dengan keyakinan demi keyakinan.

Hingga kini, suara-suaramu masih menghuni rongga-rongga telingaku. Jejak punggungmu masih melekat di kepalaku. Tapi itu semua hanya jejak, hanya sebatas ingatan lalu;

Tanpa arti.


0 Comments


EmoticonEmoticon