Patah Hati Terbaik


Pagi selalu membahagiakan. Dibawanya kita pada sebuah harapan baru untuk kehidupan. Namun tidak pada suatu pagi di mana aku mendapatimu sudah tak sendiri.

Awalnya aku tertawa. Tertawa, tertawa, dan tertawa. Namun sebuah tawa ternyata kamuflase. Layaknya tetes embun di ujung daun waru, air mata akhirnya mengalir di pipiku. Perlahan, sangat pelan. Satu per satu hingga membentuk aliran. Deras, deras sekali. Dan di detik kesekian aku menyadari, tanpamu aku tak tahu harus apa lagi.

Sebuah tanda tanya besar menggantung di kepala. Sayang, apakah semua untukmu selama ini kurang? Sebab kini pertahananku hancur. Melebur bersama segala rasa yang belum kukata. Tercampur bersama segala memori yang perlahan menghampiri. Bangsat, kurasa aku menemukan diriku yang pernah tersesat.

Kamu terlampau jauh. Dan semakin hari rasanya sulit untuk kurengkuh. Bagaimana aku bisa ikhlas, sedangkan semua tentangmu tak terbatas? Bagaimana aku bisa rela, sebab hanya denganmu aku bisa tertawa? Aku begitu menyayangkan takdir. Kenapa saat ini begitu getir; setidaknya untukku. Melihatmu tertawa bahagia di sana, demi Tuhan aku takkan bahagia.

Memang benar, jatuh cinta dengan sahabat ialah hal paling laknat. Bisa jadi kau bahagia, lalu sedih setelahnya. Memang sudah seharusnya harapan-harapan itu musnah. Sudah sepantasnya semua rasa itu enyah.

Mati. Seperti yang kurasa saat ini.

Teruntukmu, lelaki(ku), aku sedang pilu mendapatimu bersama wanita yang selain aku. Aku sedang terluka menemukanmu bahagia dengan wanita lain di sana. Aku sedang hancur sehancur-hancurnya wanita yang sedang berduka. Dan kupastikan setelah ini, akan kau dapati aku dengan segala burukku.

Terutuk kamu, sahabatku. Kamulah patah hati terbaikku. Dan jika masih kau temui aku, maka kelak pulanglah. Semoga aku ujung pulang yang kautuju. Namun jika aku sudah mati bersama rasa ini, maka kenanglah. Semoga kelak kau tak merasa patah hati yang semenyiksa ini.


Surakarta, Januari 2017.

0 Comments


EmoticonEmoticon