Teruntuk Mas Yang Baik Hati

Dear, Mas.

Kepadamu aku banyak memintal harap, merajutnya menjadi sebuah mimpi bersama. Dan semoga kamu belum bosan mendengar cerita tentang kenaifanku ketika pernah begitu mengharapkan kamu. Dulu, aku sering menyebutmu dalam doaku, meminta pada Tuhan untuk melebihkan waktu kita bersama. Merapal berapa persen kemungkinan hati kita bisa menyatu suatu saat nanti. Mencemburui semua perempuan yang ada di sekitarmu, tidak pandang bulu. 

surat cinta

Sekarang, ketika kita sudah bersama, namamu semakin sering kusebut, dengan doa, juga harapan yang sama. Cuma, kadar cemburuku yang katamu seperti anak kecil yang manja dan rewel itu sudah kuhilangkan sedikit demi sedikit. (ah, aku tahu kamu pasti tertawa ketika kubilang aku bukan lagi pecemburu) tapi percayalah, Mas. Aku sudah belajar banyak dari caramu mengerti aku, juga kesabaranmu menghadapi tingkahku.

Mas yang ngeselin tapi selalu ngangenin, 

Terkadang aku ingin menanyakan banyak hal kepadamu, tapi semua itu cuma berakhir di mulut dan bibirku tanpa pernah sampai pada telingamu, karena aku tahu kau tidak pernah mau benar-benar menjawab dengan lugas. Jawabanmu selalu diplomatis, membuatku harus selalu menerka-nerka. Mas, aku bukan cenayang yang selalu bisa menebak isi hati dan kepalamu. Jadi, kumohon jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan, seperlunya saja. Ya, walaupun aku tahu, kamu memang seorang yang sangat tertutup. Bahkan semua orang mengenalmu sebagai seorang yang kocak, lucu, dan jarang mengeluh.  

Mas, (yang kata orang-orang gentleman dan selalu baik hati)

Meskipun kamu adalah lelaki yang cuek, aku tahu kamu selalu menunjukkan perasaanmu dengan cara yang lain. Seperti yang beberapa kali kau katakan dengan sok puitis, katanya perbuatan jauh lebih mengena dan membekas di hati daripada sekadar ucapan. Iya Mas, aku percaya kalau kamu memang lebih sering memilih diam dan bungkam daripada terlalu banyak bicara. Begitu juga ketika aku melakukan suatu kesalahan, kamu menghukumku dengan diam-mu (dan itu sudah sangat cukup membuatku jera). Dan yang terakhir, kamu selalu bisa membuatku jadi anak kecil yang super cerewet (di hadapanmu), ketika di luar sana aku dikenal sebagai seorang yang cenderung diam.

Mas, 

Sebagai penutup pesan, aku mau mengucapkan terima kasih, untuk hampir lima tahun yang menyenangkan dan penuh kejutan, untuk selalu menjadikanku seorang yang lebih kuat ketika aku sudah tidak mau lagi menghadapi duniaku sendirian. 

Dan lagi, perihal pesan orangtuaku, terima kasih sampai sejauh ini sudah amanah dari sejak kali pertama kamu datang ke rumah.


By: Noroum 


Baca ini juga: