Semesta Sudah Tahu, Kalau Aku Mencintaimu


Jika kelak, aku berubah menjadi perempuan yang menyebalkan, tolong peluk aku kuat-kuat. Aku mungkin akan menangis atau memarahimu, tapi tetap diamkanlah aku; dalam pelukanmu. Diamkan saja.

Perlu kamu ketahui, bahwa aku memilihmu karena aku dianugerahi keyakinan bahwa kamulah tempat terbaik untuk memulangkan resah dan melabuhkan rasa. Jangan pernah berniat pergi. Yakinkan aku, hingga bara dan amarahku menyeruak menuju awan.

Ada masanya, kita hanya perlu rajin-rajin bersabar dan paham tentang satu hal, yaitu: mau dipandang dari penjuru mana pun, cinta adalah tentang saling–tidak membiarkan salah satu merasa lebih banyak berkorban dan berusaha.

Kamu selalu tahu, aku bisa saja berubah dari perempuan yang manis menjadi perempuan egois, lalu detik berikutnya menjadi menyenangkan kemudian berubah mengerikan. Tapi, pada akhirnya di antara konflik perasaanku sendiri, aku tetap ingin memandangmu sebagai rumah.

Aku selalu ingat perkataanmu yang satu ini: “kamu tuh bocah paling bandel yang selalu senang bermain-main dengan asumsi sendiri. Tolong, berhentilah menyakiti perasaanmu sendiri.”

Iya, aku memang terlalu rumit, maafkan aku, karena aku selalu butuh sosokmu yang sabar.

Dulu, aku selalu tidak yakin bagaimana mungkin bisa; kita memercayai segenap hidup kita kepada seseorang yang dalam hatinya saja kita tidak tahu seperti apa. Tapi sepertinya, kini, prasangka itu tak berlaku padamu.

Rasa-rasanya, aku harus banyak-banyak bersyukur karena kamu masih bersedia memberikan kehadiranmu hingga detik ini padaku. Izinkan aku, di setiap hariku, aku ingin menengadah dan menyamakan pandangan matamu pada mataku, demi memberitahumu sesuatu, bahwa; Semesta sudah tahu, kalau aku mencintaimu.

0 Comments


EmoticonEmoticon