Teruntuk Kamu Yang Masih Betah Diam, Dan Masih Saja Terus Memendam


Teruntuk kamu yang masih betah diam, dan masih saja terus memendam. Mungkin itu menjadi beban yang tidak biasa untukmu. Harus pura-pura tahan ketika kita saling bertemu, pura-pura tidak terlihat bahwa kau sedang rindu. Pura-pura biasa saja padahal kau sedang menahan debaran jantung yang sesungguhnya sangat tidak menentu.

Aku hanya ingin bertanya, sampai kapan? Sampai kapan kau masih begitu betah dengan diam. Sampai kapan rasa yang bergemuruh bisa kau atasi sendirian. Adakah ragu yang sebenarnya menghalangi jalanmu menujuku? Atau adakah keyakinan yang terkadang nyaris habis digerogoti oleh penantian?

Kemarin kau memintaku untuk tetap sabar dalam penungguan. Kuturuti dengan terus memupuk kesabaran agar tak habis dimakan hama keraguan. Menunggu dan terus yakin bahwa memang langkahmu tengah menujuku yang dihantui kesepian. Aku memang masih bisa sabar, tapi tidak dengan rasa penasaran. Mau sampai kapan?

Kalau perjalananmu yang masih ingin kau lakukan sendirian, tidak apa. Begitupun dengan ego yang masih ingin kau redupkan sebelum kita saling berdampingan. Aku hanya ingin meminta kejelasan juga mengingatkan. Diam-diam yang kita hidupkan, suatu saat harus dimatikan. Maka, beri aku batas yang jelas, biar aku lekas pantas.

Kalau memang kau ragu, biar kututup saja hatiku yang nyaris terbuka untukmu.


Source: febriantiambar

0 Comments


EmoticonEmoticon