Kemeja Hujan

kata kata cinta

"Hujan paling besar yang pernah diturunkan Tuhan adalah hujan dari kedua kelopak matamu. Dan hujan paling hangat yang pernah aku rasakan adalah ketika ditangisimu."

========

Kepalaku mengadah ke atas, menghembuskan setiap asap rokok yang telah kuhisap dalam-dalam. Ntah sudah berapa lama sejak terakhir kali aku menghisap batang-batang penyebab penyakit ini, dulu aku sudah memutuskan untuk berhenti, dan sekarang aku melakukannya lagi. 

Pagi ini hujan turun lagi, mungkin Tuhan sedang sedih sehingga air mataNya turun membasahi bumi. Mungkin Tuhan sedih ketika mendengar setiap doa-doa malam yang dilantunkan para pujangga, yang mengharap jatuh cinta namun kembali dipertemukan dengan hati yang kerap terus saja melukainya.

Beberapa doa meminta bahagia yang tak terwujud kini luruh bersama air hujan. Membasahi bumi dengan kenangan, menggenang, membuat para mata yang menatapnya ikut mengeluarkan air yang turun membasahi pipi seperti hujan membasahi daun jendela.

Ada satu pesan singkat yang tertera pada ponselku. Pesan singkat dari seseorang yang aku cintai dengan begitu utuh, tapi cintanya pada orang lain kerap membunuh cintaku dengan perasaan tidak butuh. Mungkin itu alasan mengapa aku kembali kepada kebiasaan burukku pagi ini. 

“Thanks, Dim. Berkat kamu, akhirnya Ryan mau memperbaiki semuanya denganku hari ini.”

Astaga! 
Apa yang telah aku lakukan?!
Mengapa tadi malam aku meminta Dea untuk memaafkannya?!

Lusa kemarin, Dea mendatangi kos-kosanku. Ia basah terguyur air hujan dan menangis sambil mengetuk daun pintu. Aku yang melihatnya langsung buru-buru bangun dari tidurku, membuka pintu, dan mengeringkan air yang membasahi wajahnya itu dengan handuk mandiku. 

Dengan tersengguk-sengguk, Dea bercerita bahwa dirinya baru saja kembali patah hati; kepada orang yang sama; sekali lagi. Walaupun aku tahu pria yang mendampingi hidup Dea hari ini bukanlah Pria yang baik, aku tetap selalu mendukung Dea untuk tetap bertahan, sembari terus menahan perasaanku sendiri. 

Ya, aku mencintai Dea sejak pertama kita berkenalan waktu ospek fakultas 2 tahun lalu. Hingga hari ini pun, aku masih. Namun sudah lebih dari satu juta puisi melipat-lipat hatiku sendiri ketika aku mendengarkan Dea berbicara dengan ceria mengenai Pria-nya. Lidahku kelu terpaku ketika memberi nasehat kepada Dea agar terus mencintainya ketika Dea terluka. Pelukan demi pelukan aku layangkan agar Dea berhenti kecewa, walaupun dengan memeluknya, aku kecewa karena tidak dipilihnya.

Aku adalah pria baik, yang mengharapkan cinta dari wanita yang baik, yang sedang mencintai pria tidak baik.

Lusa kemarin, sakit hati yang Dea rasakan tampaknya sudah melebihi dari keterlukaan yang biasanya. Dea sempat hampir mengambil beling kaca bekas botol minuman di tempat sampahku dan menggoreskannya ke area tangan. Aku peluk Dea, aku rebut beling yang sedang ia genggam hingga tanganku sendiri terluka. Ah bagus, sekarang selain hatiku, tanganku juga yang berdarah-darah karena Dea.

Dea kembali sakit hati, dan aku kembali meyakinkan Dea untuk tetap bertahan, seperti biasanya. Namun kali ini berbeda, aku sedikit geram dengan Ryan– pacar Dea. Aku sampai-sampai menelpon dan memaki-maki Ryan agar menghormati Dea. Kita sempat beradu argumen, hingga pada akhirnya Ryan setuju untuk mengunjungi Dea di Bandung.

“Hari ini tampaknya akan Hujan lagi, jangan lupa bawa payung. Semoga semuanya menjadi lebih baik, ya Dea.” 

Aku membalas pesan singkatnya lalu kembali menghisap rokok yang baru aku nyalakan ini dalam-dalam. Hari ini Ryan berjanji akan menemui Dea di sebuah stasiun. Dea diminta datang tepat pukul 20.00 malam, di bawah cahaya remang-remang rembulan, yang menjadi saksi kembalinya dua hati yang sering terluka, dan yang menjadi saksi keterlukaan paling besar satu hati yang mencinta tapi tak pernah dirasa ada– Hatiku.

Menjelang pukul 20.00 Aku merasakan gundah gulana di dalam hati. Sudah lebih dari 3 bungkus rokok aku habiskan sendiri hari ini. Aku khawatir dengan Dea, biarpun aku sakit hati seperti ini, aku sangat khawatir dengan keadaan Dea. Aku mohon kepada Tuhan agar Dea tidak sakit lagi, kasihan hatinya, cukuplah aku yang sakit, jangan orang yang kucintai ini yang sakit. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil payung kepunyaan teman kosanku dan pergi menyusul Dea yang sudah lebih dulu menunggu di stasiun.

Dari jauh, aku melihat Dea sedang menunggu kereta kekasihnya datang. Dea berdiri di dekat rel kereta hanya agar bisa menyambut kekasihnya lebih cepat, memeluknya dengan erat, dan membunuh hatiku perlahan-lahan. Dea menunggu untuk bahagia, aku menunggu untuk terluka. Dan anehnya saat itu aku malah terus memperhatikan Dea, walau aku tahu aku pasti terluka. Rasa-rasanya logikaku sudah binasa.

30 menit berlalu. Sudah ada lebih dari 3 kereta yang datang, namun Dea tidak menemukan sama sekali kekasihnya di setiap peron yang ia perhatikan. Dea terus saja melihat ke arah kanan dan kiri berharap menemukan sosok punggawa hatinya tersebut.

Sekarang pukul 21.00, sudah satu jam Dea menunggu. Dea masih saja setia berdiri dan tak mau duduk. Setiap kereta yang datang selalu Dea pandangi dengan seksama berharap kekasihnya ada. Berkali-kali Dea sibuk dengan ponselnya, mungkin Dea sedang menghubungi Ryan.

Pukul 21.30, Dea masih diam sendirian di stasiun. Kini suasana sudah mulai sepi, beberapa loket tiket sudah padam dimakan malam. Beberapa pengamen sudah mengakhiri lagu-lagu yang mengiringi setiap tetes air hujan yang perlahan turun membasahi bumi. Kali ini dari jauh aku bisa melihat tak ada senyum lagi yang nampak pada wajah Dea.

Sekarang pukul 22.00, Kereta terakhir datang. Dengan sigap Dea langsung kembali ceria berharap Ryan ada di sana. Tapi tampaknya seperti yang aku duga, Dea kembali tidak menemukan Ryan. Hujan mulai perlahan-lahan mengguyur Bandung malam ini, membasahi Dea yang kini tengah berdiri di hadapan sebuah rel kereta yang tak berpenghuni. Air hujan mulai tak membiarkan air mata Dea berlama-lama bertengger di pipi. 

Aku rasa kali ini doa-doaku tentang kebahagiaan Dea kembali tidak dikabulkan Tuhan. Ia luruh menjadi hujan yang menemani tiap air matanya. Doa-doaku yang berisi tentang sakit hati karena kehilangan Dea, kini menjelma menjadi air hujan yang membasahi hati Dea di saat ia merasa kehilangan cintanya. 

Dea menangis terisak-isak di dalam keheningan malam. Derasnya hujan seakan tidak terdengar di hatiku dibanding dengan tangisan Dea yang pelan, namun terasa begitu menggelegar di dalam dada. Perlahan-lahan, aku menghampiri Dea dengan membawa sebuah payung yang sudah terbuka. Aku berdiri tepat di belakangnya.

“Dea, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku menasehatimu untuk menunggunya malam ini. Maafkan aku, De.”

Dea sedikit terkejut dan membalikan badannya, menatapku dengan mata nanarnya. Aku tidak tahu air yang menetes di sekitar wajahnya adalah air hujan atau air mata, yang jelas hari itu wajahnya tampak jelas menggenang setiap kepedihan yang Tuhan turunkan.

“Dia bohong, Dim..” Ucap Dea lirih.

“Maaf..” Tanggapku.

“Aku menunggu seseorang yang tidak datang.”

“…”

“Aku.. Yang aku cinta.. dia tidak datang, Dim.” 

“…”

Dea menatapku yang masih berdiri di depannya. Kita saling menatap, tak ada satu kata pun yang terucap dari mulut kita berdua, namun mata kita saling berbicara hebat. Hujan semakin deras mengguyur kita malam ini, membuat segala percakapan hati menjadi lembab dan sembab. Membuat mata yang menangis terlihat begitu mamaksa hati yang menatapnya teriris-iris. 

“Dia datang, Dim.” Tiba-tiba ucapan Dea menganggetkanku.

Sontak aku langsung melihat ke arah kiri dan kanan mencoba menemukan sosok Ryan. Tapi malam ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, stasiun ini sudah sepi, di sana cuma ada aku dan Dea saja.

“Siapa yang datang?” tanyaku memecah keheningan.

“Yang aku cinta.” Jawab Dea singkat.

“Di mana?” Aku semakin penasaran dan terus mencari ke arah kiri dan kanan.

Tiba-tiba, tas yang sedang Dea genggam terjatuh, sontak hal itu membuatku langsung menatap ke arahnya lagi. Dea tersenyum, ia menatapku dan tersenyum. Aku diam sebentar, lalu aku pun tersenyum.

“Selamat Datang, Dim.” Ucap Dea parau.

“Aku pulang, De.” Jawabku pelan.

Dengan cepat Dea langsung memelukku. Badannya yang sudah terlanjur basah tampak tidak membuatku kedinginan. Hangat peluk yang Dea berikan telah mencairkan segala bunga-bunga es di hatiku. Aku pulang, kepada rumah yang selalu aku perhatikan namun tak membiarkan aku untuk datang, aku akhirnya pulang. Kemejaku basah terkena air hujan dan air mata. Kemeja hujan menjadi saksi dari dua hati yang pada akhirnya bersama di akhir cerita. 

Malam itu, air matanya kembali menetes, namun kali ini air matanya untukku, membasahi pipinya. Bermuara di bibirnya. Dan berlabuh di bibirku.

Tuhan, terimakasih. Hujan kali ini, aku tidak sendirian.

By: Mbeeer

0 Comments


EmoticonEmoticon