Berbincang Dengan Hati

kata hati, kata hati remaja, kata hatiku, kata hatiku untukmu sayang, kata hati yang terdalam

Hari ini aku berbincang lagi dengan hati.

“Aku liat banyak hati yang terluka, tapi tak sendiri. Mana pasanganmu? Siapa yang menjagaimu?”

Sepertinya hati ingin tertawa melihatku bertanya seperti itu.

“Jika belum siap, untuk apa mengundang penghuni yang nantinya menyakiti?”, kata si hati.

“Jadi kamu lebih memilih ‘sendiri’ dibanding 'berdua’?”

“Bukan itu persoalannya. Entah sendiri atau berdua, intinya sudah bisakah berbahagia meramu cinta? Tentang mereka yang tak sendiri, sudahkah menyicipi cinta yang sederhana, atau malah tergulung rumitnya drama yang tak ada habis-habisnya? Aku bahagia begini, perjalanan menemukan dan ditemukan itu menarik. Memang lebih bahagia jika nanti ada yang mengisi kekosonganku dan melipatgandakan bahagia yang ada. Jika ada, dia itu mungkin calon penghuniku.” 

“Rasanya jawabanmu tangguh sekali, tak seperti tubuhmu.”

“Sebenarnya semua hati itu kuat. Jika sesekali mereka terlihat lemah, mungkin karena mereka tak berusaha mencari pintu menuju rumah kekuatannya. Kamu hanya tidak tahu saja, seberapa kuat aku dan mereka.”

“Sekuat itu? Jika ada hati lain yang melemahkanmu, apakah ia berarti lebih kuat?”

“Tidak juga. Terkadang aku memberi mereka peluang untuk tereliminasi dari calon-calon penghuni, daripada meneruskan arah memberikan sebuah ruang.”

“Lagi-lagi perihal kemauanmu dan lagi-lagi tentang konsekuensi nanti.”

“Bukankah memang seharusnya semua hati seperti itu? Hati-hati menjatuhkan diri, hati-hati mempersilahkan penghuni masuk, dan hati-hati menjaga diri.”

“Pernah kau tak hati-hati?”

“Sering. Tapi itu sebuah pelajaran kan? Kadar hati-hati para hati akan meningkat seiringnya mereka tak berhati-hati. Setidaknya aku lebih bijaksana dalam melihat segalanya setelah jatuh terpecah-belah.”

“Ya, aku ingat. Tentang beberapa calon penghuni masa lalumu. Nama-nama mereka rasanya ringan terdengar, tak seberat dulu ya? Seiring berjalannya waktu aku melepas, lega itu mulai terhempas. Aku mendewasa, termasuk juga kamu.

"Firasat tentang akhir dari hubunganmu dengan objek pujaanmu, selalu tiba tepat waktu. Aku mendengungkannya sampai terdengar gema. Tapi seringkali kau mengacuhkanku. Padahal jika kamu memekakan telinga dan mau mendengar perkataanku, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tapi seperti hukum semesta, semua tidak akan pernah berjalan baik-baik saja. Namun, kau akan tetap baik-baik saja pada akhirnya.”

“Maaf hati, jika sering menutup telinga demi segala kesenangan sementara. Maaf hati, jika lagi-lagi aku mengijinkanmu dilukai berkali-kali. Maaf untuk setiap ketidakpekaan. Maaf…”

“Maafmu seharusnya adalah karena terlalu banyak mengucapkan maaf.”

Tersenyumlah hati, karena kita akan bekerja sama membangun cinta. Rumah yang selama ini kita puja-puja.


Lovepathie

0 Comments


EmoticonEmoticon