Secangkir Teh Hangat

kata-kata cinta

[Percakapan ini hanya fiktif belaka, mungkin penulisnya sedang sakit jiwa sehingga menulis percakapan absurd nan tak bermutu ini, silahkan dibaca jika anda memiliki waktu luang, silahkan di abaikan jika deadline anda sudah didepan mata]

***************************************

Kriiiiiiiing!!! kriiiiiiiiiiing!!!

Gadis: Hallo

Pria: Dirumah? Ada waktu? Hendak berbincang santai nih

Gadis: Kalau saya tidak dirumah mana mungkin saya menerima telfon dari kamu yang jelas-jelas ditujukan ke rumah. Mau ngomongin apa sih?

Pria: Ngobrol-ngobrol santai aja, ada waktu?

Gadis: Mau kerumah?

Pria: Via telfon aja.

Gadis: Lebih santai ngobrolnya di kursi teras rumah saya, sambil menikmati secangkir teh hangat mungkin?

Pria: Baiklah, saya sudah di depan pagar rumah kamu kok.

Gadis: Ya Tuhan, untuk apa kamu menelefon kalau sudah ada di depan rumah? Ketuklah pintu rumah dan ucapkan salam, itu lebih manusiawi.

Pria: Tadinya saya takut kamu tidak dirumah.

Gadis: Ya sudah, langsung duduk di kursi teras saja, saya akan segera keluar dengan secangkir teh hangat.

~~~~~

[Sore hari di teras rumah, sayup-sayup Jiro dari Noturna mengalun berulang-ulang dari dalam rumah]

Gadis: [sambil meletakkan secangkir teh hangat di atas meja] Sudah berapa jam di depan pagar rumah saya?

Pria: Apa kamu memang selalu sinis sama laki-laki? Maaf saya tidak bisa mengikuti kamu yang menyebut kami ini sebagai makhluk bertetosteron, sungguh itu terdengar tidak manusiawi.

Gadis: Kamu itu apa-apaan sih, pertanyaan kamu aneh, pernyataan kamu juga aneh, kamu memang bertetosteron kan?

Pria: Dan apakah kamu selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan? Saya memang dan tentunya bertetosteron, tapi sungguh tidak nyaman saya mengucapkan kata-kata itu.

Gadis: Ah, sudahlah, sebenarnya kamu kesini mau ngomongin apa sih?

Pria: Jawab dulu pertanyaan saya tadi, apakah kamu memang selalu sinis sama laki-laki?

Gadis: Bapak saya tentunya seorang laki-laki, ketiga adik saya juga laki-laki, atasan saya laki-laki, saya juga pernah menjalin hubungan dengan laki-laki, jadi jawabannya tentu saja tidak, tidak melulu sinis pada laki-laki.

Pria: Tidak melulu bukan berarti tidak, alasannya apa?

Gadis: Kamu itu aneh, seolah kamu memaksa saya untuk mengiyakan bahwa saya ini selalu sinis sama laki-laki.

Pria: Karena masa lalu? Bapak kamu sering memukul kamu waktu kamu kecil mungkin? Atau laki-laki yang pernah berhubungan sama kamu itu sudah menyakiti perasaan kamu?

Gadis: Pria.. Pria.. Kamu ini kok aneh. Tadi kamu memaksa saya untuk mengiyakan pernyataan kamu bahwa saya selalu sinis sama laki-laki dan sekarang kamu memaksa saya untuk menyetujui alasan-alasan yang kamu buat itu.

Pria: Udah deh, dijawab aja.

Gadis: Tujuan kamu sebenernya apa sih?

Pria: hah?

Gadis: Tujuan kamu menanyakan semua ini?

Pria: Ingin tau kamu.

Gadis: Maksudnya?

Pria: Dis, kita ini sudah saling kenal selama hampir 5 tahun, dan anehnya semakin lama saya kenal sama kamu justru saya merasa tidak mengenal kamu.

Gadis: Kamu sehat kan? Tadi gak salah minum obat kan?

Pria: Pertama kali saya kenal kamu, image yang kamu tampilkan adalah Gadis yang tomboy berambut pendek, setiap hari pake jeans belel dan kaos warna hitam atau putih dan sepatu converse yang entah berapa lama tidak dicuci, dengan jumlah tindikan di kuping yang melebihi normal. Kemudian saya tau ternyata kamu bisa dan suka merajut dan menyulam, bahkan gadis-gadis yang berpenampilan feminin pun belum tentu bisa melakukannya.

Gadis: Duh, kamu tuh beneran salah minum obat deh kayaknya.

Pria: Dis, sekarang saya benar-benar ada di titik saya seperti tidak mengenali kamu.

Gadis: Kalau kamu tidak kenal mana mungkin kamu bisa mendeskripsikan saya seperti itu, bagaimana mungkin kamu ingat apa yang dulu sering saya pake, bagai mana mungkin kamu tau kalau saya suka merajut, bagaimana mungkin?

Pria: Justru itu, kamu selalu saja mematahkan image kamu sendiri yang baru saja kamu tanamkan di kepala saya. Waktu saya tau kamu suka merajut dan suka sekali menyulam sungguh saya merasa bahwa tingkat feminitasmu itu sangat tinggi.

Gadis: Bagaimanapun juga saya ini tetap wanita, perempuan, gadis seperti nama saya, jadi sudah tentu saya memiliki sisi feminin.

Pria: Dan saya pun tidak pernah memungkiri hal itu, ta..[pi]

Gadis: Kalau begitu gak ada yang perlu dipermasalahkan lagi kan? Saya banyak kerjaan nih.

Pria: Tunggu, pertanyaan saya masih banyak untuk kamu, paling tidak sediakan waktu sampai teh dalam cangkir ini habis.

Gadis: Gimana mau habis wong daritadi gak diminum, kamu kan sibuk bertanya.

Pria: [sambil mengangkat cangkir teh-nya] Kapan kamu mau naik gunung lagi?

Gadis: Tumben kamu menanyakan itu, kamu kan gak pernah mau kalau saya ajak naik gunung.

Pria: Kenapa kamu lebih menyukai gunung, kenapa tidak ke pantai saja, pantai itu lebih indah dan lebih romantis.

Gadis: Hahaha.. Dulu kamu sendiri yang bilang bahwa saya lebih suka naik gunung karena kesamaan sifat saya dan gunung, sama-sama diam dan dingin tapi bisa tiba-tiba meledak.

Pria: Dulu memang kamu seperti itu, diam dan dingin, tapi belakangan ini saya lihat kamu mulai banyak bicara, belakangan ini kamu senang bersosialisasi, tidak seperti dulu waktu saya baru kenal kamu.

Gadis: People change by time, saya kan sekarang sudah bekerja, dan mau gak mau saya harus berhubungan dengan orang lain, berkoordinasi dengan orang lain, bersosialisasi dengan orang lain.

Pria: Saya kepingin sekali-sekali ikut naik gunung sama kamu.

Gadis: Hah? Serius? Kamu naik gunung?

Pria: Katanya di alam liar orang justru akan mengeluarkan sifat aslinya, siapa tau saya jadi bisa benar-benar mengenal kamu.

Gadis: Percayalah Pri, tidak ada orang yang mengenal saya sebaik kamu. Kamu bahkan hafal jadwal bulanan saya, haha

Pria: Bahkan melebihi mantan pacar kamu itu?

Gadis: Tentu saja, bahkan dia mungkin tidak tau apa-apa tentang saya, haha.

Pria: Jadi apa yang membuat kamu sinis sama laki-laki?

Gadis: Duh Gusti, kamu ini kekeuh ya, dari tadi nanya itu terus, saya itu gak sinis, memang kamu merasa saya sinis-in? Kalau saya sinis mana mungkin saya mau membuang waktu demi melayani pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang kamu ajukan.

Pria: Saya yakin suatu saat kamu akan menceritakan alasannya.

Gadis: Kalau kamu seyakin itu tunggu saja sampai waktunya tiba.

Pria: Manusia kan harus berusaha, tidak hanya menunggu dan berpangku tangan.

Gadis: Hahaha, abis dari sini kamu langsung ke dokter ya, saya khawatir kamu sakit, dari tadi pertanyaan dan pernyataan kamu gak ada yang sehat.

Pria: Mungkin saya memang sudah gila karena hampir 5 tahun berteman dengan orang seaneh kamu.

Gadis: Kamu lebih aneh karena mau berteman dengan orang aneh.

Pria: Jadi kapan saya bisa ikutan naik gunung sama kamu?

Gadis: Kamu serius? Nanti deh saya kabarin, sekarang saya lagi banyak kerjaan jadi gak mungkin cuti untuk plesiran.

Pria: Tumben kamu mikirin kerjaan, udah mulai berubah lagi nih kayaknya?

Gadis: Berubah apanya?

Pria: Iya, kamu kan dulu gak pernah mikirin kerjaan, kalau udah kepingin naik gunung ya berangkat aja, gak peduli dapet cuti atau gak, gak peduli kamu harus bolos dan ninggalin kerjaan, gak peduli kamu nantinya harus lembur karena kerjaan yang kamu tinggal itu.

Gadis: Hehe, lagi belajar jadi orang bener nih.

Pria: Kamu itu dari dulu juga bener, bener-bener luar biasa anehnya, haha.

Gadis: Kamu percaya gak kalau pelaku pelecehan seksual dan perkosaan itu 90% adalah orang terdekat dari si korban?

Pria: Ih, kenapa tiba-tiba nanya begituan?

Gadis: Saya sangat percaya, liat aja tuh di berita-berita, ada ayah mencabuli anaknya, ada anak meniduri ibunya, ada guru melecehkan muridnya.

Pria: Kamu tuh kebanyakan nonton berita kriminal.

Gadis: Tapi beneran deh, saya belum pernah denger ada orang iseng di tengah jalan tiba-tiba nyulik orang yang gak dikenal buat di perkosa, biasanya si pelaku udah kenal sama si korban.

Pria: Saya juga gak pernah kepikiran buat nyulik orang di tengah jalan, terlalu rame, haha

Gadis: Makanya saya harus berhati-hati sama kamu, kamu kan udah terlalu mengenal saya, haha.

Pria: Tiap jam segini penyakit gila kamu kumat deh, mulai ngelantur ngomongnya, haha.

Gadis: Makanya kamu cepet abisin teh-nya terus pulang, lama-lama kamu disini saya bisa beneran gila.

Pria: Satu pertanyaan lagi dan kali ini tolong di jawab dengan serius, kamu lagi jatuh cinta ya?

Gadis: Duh, apa sih kamu ini, udah sana pulang, saya masih ada kerjaan nih.

Pria: Iya deh saya pulang, nanti kalau kamu udah sehat kasih kabar ya?

Gadis: Maksudnya? Kamu pikir saya lagi sakit?

Pria: Sakit hati mungkin? Eh, tapi kan kamu lagi jatuh cinta, jadi udah gak sakit hati lagi dong, haha

Gadis: Udah sana pulang.

Pria: Jangan lupa kabarin kalau kamu udah sehat, hari ini saya belum dapet jawaban apa-apa, jadi saya akan mengulang sesi tanya-jawab ini, tapi nunggu kamu sehat dulu biar jawabannya juga sehat.

Gadis:Apa-apaan sih kamu ini.

Pria: Saya pulang dulu ya, dan kamu; selamat menikmati rasanya jatuh cinta lagi.

Baca ini juga:

Source: snapofmylife

0 Comments


EmoticonEmoticon