Semua Hal Bisa Berubah Gitu Aja. Sama Seperti Kita

kata-kata cinta

Semua hal bisa berubah gitu aja. Sama seperti kita. Aku nggak ngitung siapa yang punya andil lebih besar dalam perpisahan paling sepi ini.

Yang kuingat jelas gimana dulunya kita pernah merasa sebegitu bahagianya menyadari eksistensi masing-masing dalam keseharian kita. Aku ingat percakapan pertama kita yang penuh kecanggungan, namun kita tetap ingin ngobrol tentang apa aja. Aku ingat setiap debar lugu kala mendapatkan pesan dengan pengirim namamu. Aku ingat satu ucapan selamat malam darimu membuat hariku terasa jauh lebih… komplit. Aku ingat semuanya, sampai aku lupa gimana rasanya nggak ada kamu di hidupku.

Aku ingat, aku mulai nyetel nada notifikasi khusus untukmu biar ketahuan kalau kamu chat. Aku ingat, aku mulai senang lihat instastory-mu, foto pada feed instagram-mu, hingga random tweet di twittermu. Aku ingat, aku mulai nganggap kamu dan ceritamu adalah hal paling penting yang harus kudengar setiap hari. Aku ingat, aku mulai nggak peduli sama pola tidurku, karena nyatanya ngobrol di telepon denganmu lebih menyenangkan dibanding terlelap. Aku ingat, aku mulai mengizinkanmu mengacaukan semestaku. Tanpa syarat.

Dan beginilah, aku mulai nggak nganggap kamu sebagai orang lain lagi.

Tapi, Sayangku, semua hal bisa berubah gitu saja. Walau tampaknya, nggak ada hal yang menyebabkan perubahan itu. Meski kelihatannya, waktu berlalu seperti biasa saja.

Ketika aku telah nyaman, kamu menarik diri. Karena barangkali, nggak ada lagi yang perlu diketahui dari aku. Euforia itu semakin menurun dan ya ketertarikan itu memudar. Dan aku dibiarkan masuk ke dalam sebuah fase yang mengerikan: fase toleransi. Sendirian. Aku bertoleransi ketika kamu nggak sesering dulu kabarin aku. Aku bertoleransi ketika kamu nyatanya lebih aktif di instagram dibanding tab chat WhatsApp-ku. Aku bertoleransi…karena aku tau hidupmu nggak hanya tentang aku saja.

Sampai akhirnya, aku sadar kalau kesibukanmu hanyalah kamuflase. Sementara aku masih setia nungguin satu perhatian simpatikmu. Sungguh, semua sia-sia, Sayangku.

Sekali lagi, semua hal bisa berubah gitu aja. Dari nada dering khusus menjadi nada dering default. Dari chat yang paling atas menjadi dibiarkan tenggelam saja. Dari yang saling mencari menjadi saling menghindari. Dari yang tau segalanya menjadi nggak tau apa-apa lagi. Dari senyuman manis menjadi senyuman basa-basi. Lalu, berakhir kaku.

Dan entah mana yang lebih menakutkan dari semuanya; fakta bahwa kamu memang ingin pergi dan nggak kembali lagi, ataukah kemungkinan kamu akan kembali lagi suatu hari nanti; di saat aku sudah berhasil melupakanmu (?)
Baca ini juga:

0 Comments


EmoticonEmoticon