Untuk Seseorang Yang Belum Sempat Kutemui


Malam ini pikiranku sedang kacau, berantakan dan mungkin akan sangat kesulitan jika harus ditata ulang. Aku menulis ini dengan diiringi oleh Ed Sheeran yang melantunkan lagu Perfect, tentu kamu tidak akan pernah menyadari, aku mengetahui lagu itu dari Insta Story-mu.

Sakit, dan aku masih belum mengerti perihal apa yang menjadi jalan pikiranmu. Tanpa alasan dan sebab akibat yang tak kutahu, kamu memutuskan hubungan komunikasi yang baru beberapa hari ini kita jalani. Kamu memblokir semua ases jalan satu-satunya untukku menghubungimu kala rindu berubah menjadi sendu. Semua media sosial yang menghubungkan kita berdua untuk berkomunikasi kamu blokir tanpa sebab dan alasan yang pasti.

Bodoh memang aku ini. Harusnya aku tidak bersikap berlebihan seperti ini; meratapi apa yang memang tak perlu diratapi. Padahal kita baru saja berkenalan, lewat dunia maya, belum sempat untuk bertatap muka secara langsung denganmu. Ah, sialnya aku terlalu mudah untuk jatuh cinta. Pantas saja aku ini selalu dipecundangi dengan perasaanku sendiri.

Salahku memang, salah karena aku terlalu mudah untuk jatuh cinta. Terlalu memimpikan suatu hubungan yang memang tak akan bisa untuk menjadi nyata. Mustahil spertinya bila aku terlalu berharap untuk memilikimu seutuhnya. Bodoh! Pecundang! Aku memang orang bodoh dan pecundang, untuk mengatakan rindu saja sangat sulit.

Sekarang kamu pergi, mustahil untuk kucari dan kutemukan kembali, padahal aku belum sempat untuk mengungkapkan perasaan cintaku ini. Ah, sial! Aku tak tahu siapa yang harus disalahkan saat kondisi seperti ini.

Setidaknya sebelum kamu memutuskan untuk menghilang, beri aku penjelasan di mana letak kesalahanku, agar aku bisa memperbaikinya. Kini, aku sudah kehilanganmu, jejakmu di media sosial tak lagi bisa kutemukan. Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa cinta pada dunia maya bisa membuatku kecewa sebegini hebatnya.

Jika kamu membaca tulisanku ini, aku harap kamu akan mengerti, aku bukan tipe orang yang mudah berkata cinta pada perjumpaan maya, aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan “Aku mencintaimu. Dan aku ingin memilikimu seutuhnya” pada saat kita mewujudkan temu. Itu adalah alasanku, mengapa aku tak segera mengungkapkan cinta lewat percakapan kita pada dunia maya, aku ingin mengungkapkan cinta dalam nyata, sehingga kamu bisa merasakan debarnya secara langsung saat kita bertatap muka.

Kini kamu sudah memilih untuk pergi, dan aku masih berdiri di satu kota denganmu. Kamu tahu alasannya mengapa aku masih belum kembali pada peradaban tempat sebenarnya mimpiku dibangun untuk yang pertama kalinya? Alasannya terletak pada kamu, adalah kamu yang membuatku menunda untuk kembali pada penatnya pekerjaan yang akan menenggelamkanku pada kesibukan. Sengaja aku mengambil cuti lebih panjang, alasannya adalah untuk menemuimu. Namun sudahlah, mau bagaimanapun kamu sudah memilih jalanmu sendiri.

Malam ini sebentar lagi pagi. Ed Sheeran masih berulang-ulang menyanyikan Perfect, dan kenangan kebahagiaan kita dalam maya masih terus diputar ulang, aku kewalahan. Bagaimanapun harapanku untuk bisa memilikimu masih aku simpan rapat-rapat. Tak ada satu orangpun yang tahu, kecuali Tuhanku. Entah harus bagaimana lagi, yang jelas malam ini aku masih terluka dengan apa yang telah kamu lakukan. Maaf, andaikata aku pernah mengecewakanmu.

Terima kasih untuk kebahagiaan yang pernah kau ciptakan, meskipun kebahagiaan itu hanya berlangsung dalam maya dan belum sempat untuk terwujudkan menjadi nyata. Kamu tahu apa yang sedang aku lakukan selain mendengarkan Ed Sheeran – Perfect dan menulis ini? Aku sedang membaca chat kita berulang-ulang, sungguh notifikasi chat dari kamu adalah yang kutunggu-tunggu. Betapa sangat bahagianya aku sebelum kamu memutuskan untuk menghilang tanpa secuil alasan.

Aku besok akan kembali pada peradabanku. Sebab, weekend ini kamu sudah pasti tidak menemuiku dan temu akan menjadi semu. Tapi ada satu pengecualian, jika kamu membaca tulisan ini dan kamu berubah pikiran, aku bisa menunda kepulanganku hingga akhir pekan. Seperti yang kamu janjikan sebelumnya, bahwa akhir pekan ini kita akan mewujudkan temu. Tapi bila kamu tidak berubah pikiran, tak apa, aku akan kembali menyibukan diri, sebab jalan satu-satunya melupakan tentangmu adalah kembali menyibukkan diri.

Semoga kamu selalu baik-baik saja dan bahagia. Sakitnya cukup aku saja yang rasakan, kamu bagian bahagianya saja. Tak apa, aku sudah terbiasa, maksudku terbiasa seperti ini; diberi harapan palsu oleh orang yang hatinya sudah kujatuhi cinta.

Selamat malam, sebentar lagi pagi, tidur yang lelap, doaku akan selalu menemanimu. Dan aku, malam ini akan selalu ditemani oleh Ed Sheeran dengan lagu Perfect-nya, dan kenangan tentang kita dalam maya masih akan selalu diputar berulang-ulang.

© Luka Kita | 04 Januari 2018
Kamu akan suka baca ini: Benarkah Kita Bahagia?

0 Comments


EmoticonEmoticon