Menunggu Balasan Pesan


Pukul sebelas lebih sedikit di suatu malam yang senyap, benakku sedang terbelah menjadi dua kehendak antara; ingin menyapamu atau tidak. Satu yang tak kamu tahu, tidak mudah bagiku untuk memilih karena ketakutan selalu berada selangkah lebih depan dariku. Ketakutan akan bagaimana jika pesan itu sengaja kamu abaikan dan tak terbalas? Namun, di sisi lain, aku masih ingin yakin; bagaimana jika kamu membalasnya dengan hangat dan kita mengakhiri malam dengan obrolan yang menyenangkan?

Maka, dimulailah perjudianku. Aku berusaha keras memikirkan sebaris pesan yang dibaca dari segala penjuru mana pun akan terbaca biasa-biasa saja. Kalau saja kita seakrab itu, aku mungkin tak akan ragu menanyakan “lagi apa kamu?” sebagai pengantar obrolan. Tapi, kita tidak. Dan akhirnya, aku memilih untuk mengetik tiga huruf itu, sebuah kata “Hai…”, lalu menunggu.

Beberapa waktu berlalu, aku tak ingin menghitung. Karena setiap detiknya menggerus hatiku pelan-pelan. Tidak terdengar sesamar apa pun bunyi nada notif itu. Namun, aku masih mau menanti. Mungkin, sebentar lagi–satu menit lagi, lima menit lagi, atau sepuluh menit lagi. Mungkin, kamu sedang tidak berada dekat dengan ponselmu hingga membuatmu tidak bisa membalas pesanku secepat kilat. Tak apa, aku punya banyak waktu kok.

Selagi menunggumu, aku bosan. Lantas, mulai berselancarlah aku di media sosialmu. Barangkali, ada kabar penting darimu yang terlewatkan olehku. Barangkali, kamu sudah menayangkan kesibukanmu seakan memperingatkan kepada dunia, jika kamu tidak bisa diganggu dalam kurun waktu itu. Jika iya, aku pasti akan memakluminya. Tapi ternyata, kamu sama sekali tidak.

Bisa terlihat jelas aktivitas di media sosialmu yang begitu aktif dan…baru.
Sementara, pesanku sudah sekitar setengah jam yang lalu terkirim. Bukan, aku bukan ingin mengekang kebebasanmu untuk melakukan hal apa. Tapi, kamu pasti memperhatikan setiap notif yang masuk kan? Maksudku, sangat kecil kemungkinannya jika pesan itu tak benar-benar sampai padamu. Iya kan? Jadi, aku tidak salah kan jika aku berprasangka; kamu memang sengaja mengabaikanku?

Jari-jariku patah hati. Ada sungai yang hendak mengalir di pipi jika saja tak sekuat tenaga kutahan. Malam itu, aku baru tahu–menunggu bisa semengerikan itu. Lantas, aku mengatakan pada diriku sendiri untuk berhenti, sebelum aku ditertawakan oleh keyakinanku sendiri. Namun, tetap saja, selagi mataku belum terpejam seluruhnya, aku masih berharap sebuah pesan sesingkat apa pun; dari kamu.

Tapi, tidak ada. Tidak ada satu notif pun. Tidak ada bunyi apa pun. Selebihnya, sunyi.

Besoknya, di saat aku tidak mengharapkanmu, pesanmu justru tiba. Namun, sayang, euforia pada kemarin malam dan hari ini nyatanya telah berbeda. Walau tak bisa kusangkal ada banyak debaran lugu yang menggedor jantungku. Walau aku membaca pesan itu berulang-ulang kali sambil tersenyum malu. Sayangku, meskipun balasan pesan itu tidak kuanggap terlambat, tapi semuanya sudah tak lagi tepat.

Lalu, aku menutup halaman obrolan itu, mengunci ponselku, dan menggesernya jauh-jauh dari pandangan, sembari mengulur waktu dan berpura-pura sedang tidak sempat untuk membalas pesanmu. Karena lagian, aku pun tidak penting kan? 
Baca ini Juga:
Source: Cindy Joviand

0 Comments


EmoticonEmoticon