[CERPEN] Surat Untuk Bara


Jadi, hampir delapan tahun kita berpisah.
Tidak apa, toh kita sama–sama bahagia. Hanya saja berbeda dunia.
Bar, Aku sedang di kamar. Duduk menunggu pesan singkat kawanku yang (mungkin) lupa dengan janjinya untuk bertemu. Kepalaku melompat ke satu moment masa lalu dimana kamu sedang duduk sendirian di ruang tengah rumah itu.
Saat itu, aku baru pulang sekolah dan kamu sedang menajamkan pensil dengan sebuah pisau. Di rumah itu memang tak ada rautan pensil. Selalu hilang, olehku.
Aku menghampirimu dan kita duduk dalam diam selama kamu memotong tipis-tipis pensil di genggamanmu.
Aku memperhatikannya, dan bertanya:
“Kenapa kita harus selalu menulis dengan pensil yang runcing?”
Kamu berhenti.
Melihat mataku dengan pensil di tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Sial, dua-duanya tajam.
Kamu meletakkan pisau kecil itu dan mengambil secarik kertas di atas piano.
“Tulislah sesuatu” serumu sambil menyodorkan pensil itu.

- Namaku Hujan -

Kutulis dua kata itu tanpa berpikir, terpahat begitu saja.
Kamu mengambil pensil itu kembali dari tanganku dan mematahkan ujungnya.
Aku heran. Kenapa kau patahkan hasil kerjamu?
“Tulis lagi” perintahmu berulang.

- Namaku tetap Hujan -

Kamu tersenyum.
Aku tahu, tulisan yang kedua sungguh jelek dan tak sejelas yang pertama. Garis tipis mengganggu karena permukaan pensil yang terpecah.
Kamu bertanya padaku, “mana yang lebih mudah dibaca?”. Tentu saja aku menunjuk tulisanku yang pertama.
"Kenapa kita harus menulis dengan pensil yang runcing, agar tulisan kita mudah terbaca. Agar yang membaca tidak bingung, agar yang membaca mengerti."
"Sama seperti manusia, kita harus selalu mengasah diri kita. Agar orang di sekeliling kita jelas menangkap maksud, mudah mengerti. Agar mereka merasa mudah hidup dengan kita. Kelak aku ingin kamu seperti pensil, semakin kamu terasah, maka dirimu akan semakin merendah. Jadilah bermanfaat, tuliskanlah garis hidup dengan jelas. Kelak kita akan habis oleh waktu."
Tapi apa yang kita tulis di kertas hidup, akan selalu terbaca oleh mata mereka yang penuh tanya??
Aku kehilangan kata-kata saat itu.
Andai kamu tahu, itu melekat kuat di kepalaku. Semua kata-katamu, semua harapanmu padaku.

-----------

Kini aku bukan anak sekolah berseragam abu-abu lagi, Bar. Aku sudah 24 tahun lebih empat bulan. Aku sudah punya pacar. Hehehe, aku berusaha membuat dia tertawa setiap hari. Seperti katamu, cinta tak melahirkan kebahagiaan, justru kebahagiaanlah yang melahirkan cinta. Aku berharap, dia mencintaiku sampai aku menutup mata.
Bar, sahabat–sahabat kita sudah banyak yang menikah. Mereka tumbuh menjadi orang tua yang luar biasa. Aku, mungkin belum waktunya. Beberapa kali Tuhan mengambil calon ibu dari anak-anakku. Anak kecil – anak kecil itu, belum boleh ada di kehidupanku saat ini. Aku belum tajam, aku kurang mengasah diri. Tapi kelak ketika mereka lahir nanti, akan kuperkenalkan mereka padamu, Bar. Pada sosokmu yang mengajari Ayahnya tentang dunia untuk pertama kalinya. Akan kutunjukkan bagaimana engkau mensyukuri kehidupanmu, dan berdoa bagi kehidupanku.
Bar, hampir delapan tahun kita berpisah.
Tidak apa, toh kita sama – sama bahagia. Hanya saja berbeda dunia.
Aku bahagia, Bar. Hidupku bahagia. Tak mewah, tapi aku bersyukur. Dan aku akan terus mengasah diriku.

--------------
December 06, 2014

0 Comments


EmoticonEmoticon