Definisi 'Cantik' yang Kacau


Minggu saya diawali dengan perasaan gelisah tanpa alasan jelas. Cek tanggalan, ternyata sudah masuk masa PMS — seperti biasa, hormon mulai suka banyak gaya 😂

Nah kebetulan semalem habis kondangan dan rambut (setelah) hairdo saya otomatis masih berantakan. 

Buka IG, ada post ini:

Foto dengan caption yang jujur dan inspiratif, dari mbak @riapapermoon.

Mengenai rambut keritingnya dan dilema masa muda, kala diterpa oleh industri yang berlomba mendefinisikan cantik itu apa —bukan menurut hati kita, tapi menurut apa kata media

(Post saya share dengan seijin beliau)

Saat masih kecil, saya ingat sekali rasanya membenci rambut keriting saya sendiri. Di kala teman teman dibawa ibunya ke salon untuk rebonding rambut, ibu saya selalu bilang rambut keriting saya cantik dan indah. Tukang potong rambut murah meriah langganan atau kakak sepupu didatangkan ke rumah untuk memotong rambut saya. Seolah ibu saya selalu menjaga saya dari tawaran kapster salon yang selalu membujuk ibu saya untuk meluruskan rambut saya.. • Apa saya percaya kalau rambut saya indah? Tentu tidak! Saya merasa Rambut saya mengembang, poni saya mumbul tak karuan. • Sewaktu sekolah saya dipanggil "batman" oleh teman teman karena rambut saya seperti sayap kelelawar yg mengembang. Ini membuat saya senang? Tentu tidak! • Dulu saya selalu menyisir rambut karena dengan begitu rambut saya akan terlihat sedikit lebih "lurus" dan "tertata". • Tapi begitu menjelang dewasa, cara pandang saya berubah.. Sisir tak lagi menjadi sahabat saya.. Saya menikmati rambut yang berombak ombak yang menempel di pipi saya. Saya baru sadar, penyeragaman yang dilakukan dalam sistem masyarakat kita memang tak terlalu mengijinkan kita untuk tumbuh berbeda, bahkan untuk mencintai tubuh yang kita miliki sejak lahir sekalipun. • Beruntunglah konsep kecantikan dunia mulai berubah.. meskipun gelombang mainstraem nya sebenarnya masih sama.. Tapi setidaknya ada banyak orang bisa melihat kecantikan, ketampanan dengan cara berbeda.. • Saya bahkan menulis 1 buku anak berjudul 'si keriting kaia / the curly kaia', yang menceritakan masalah anak berambut keriting yang selalu membenci rambutnya.. Karena sering diejek temannya. • Ah...Terima kasih untuk para wanita yang menerima tubuhnya, Dan untuk para pria yang bisa melihat kecantikan di luar batas kebiasaan media massa. • Rambut Keriting, kulit gelap, hidung pesek, betis besar, dan sejuta kondisi lain di tubuhmu, adalah masalah, jika kamu menganggapnya masalah. Dan bukan masalah, jika kamu menganggapnya.. berkah. • Hidup kritiiiing!!!! A post shared by riapapermoon (@riapapermoon) on

Sebagai perempuan yang terlahir dengan rambut lurus, mungkin masa kecil saya “terselamatkan” dari kesedihan dan cobaan yang diberikan oleh lingkungan sekeliling. Karena rambut lurus lumayan dianggap “normal”. Nggak pernah dipermasalahkan.

Tapi dalam hati, saya pengen banget punya rambut keriting!

Entah kenapa buat saya rambut bergelombang dan keriting itu “berkarakter”. Mungkin karena keluarga dan sekeliling saya banyakan rambutnya lurus, ya. Jadi kagum kalo ada temen rambutnya kriwil, pengen punya rambut gitu juga. Rambut lurus saya jadi terkesan membosankan.

Jaman SMA dulu lagi hangat-hangatnya style “rebonding” dan “smoothing” di salon. Nggak lama, ada tren rambut keriting gantung ala Agnes Monica di film Amanda 😂

Dua-duanya pernah cobain. Ya seneng sesaat aja, trus bosen juga ujungnya; namanya juga cuma ngikutin trend.

Tapi baca tulisan mbak Ria tadi, rasanya jadi nostalgia.

Betapa di dunia ini para perempuan tanpa sadar dibuat seakan berlomba untuk mencari definisi cantik baginya, melalui banyak hal: ya bentuk badan, bentuk rambut, warna kulit, bentuk wajah... tanpa ada akhirnya.

Mau rambut keriting atau lurus, masing-masing orang sebenarnya punya sisi sedih dan gembira mengenainya.

Tapi sering perempuan ditampilkan dalam bentuk bersaing, seolah untuk merasa lebih baik kita harus mengalahkan / menjatuhkan orang lain ke posisi “kurang baik” dibanding kita.

Ditambah dengan standar kecantikan yang dalam otak kita terlihat seperti hierarkis. Ada paling cantik, ada kurang cantik.

Kadang juga kecantikan bagi kita malah berbentuk oposisi biner yang kaku: 'yang ini cantik - yang ini jelek'.

Kenapa harus saling bertolak?

Bukan ranah saya bicara tentang mengubah sistem dimana kecantikan adalah komoditas yang bisa dinilai oleh angka.

“The world 10 most beautiful women”, misalnya —bacanya sih seolah enteng aja, tapi suka nggak sadar bahwa penomoran itu masuk ke kepala kita tanpa sadar.

Terbawa.

Dalam mimpi dan sore-sore yang diam itu, kita membuat sendiri rapor kecantikan dalam hati.

Terkadang kita kejam pada nilai untuk diri sendiri, terkadang kita tergoda untuk kejam pada memberi penilaian ke orang (perempuan) lain.

Seakan angka akan pernah bisa memuaskan diri.

Beberapa teman perempuan dengan fisik mendekati sempurna (bagi saya) justru memiliki tendensi untuk lebih tidak percaya diri, dibandingkan dengan teman yang selama ini tidak terlalu diposisikan dengan predikat “tercantik” atau “paling cakep”.

Kurang bersyukur? Belum tentu.

Saat berdiskusi dengan teman, kami sadar, bahwa semakin sering predikat tertentu diberikan pada seseorang, semakin besar pula ekspektasi publik terhadap dirinya.

Pernah nggak, punya temen SD yang dulu kembang sekolah, terus sekarang pas ketemu dibilang gini: “eh, kok dia biasa aja ya”.

Atau punya nggak, temen masa kecil yang pada masanya dinilai paling cantik, kemudian sekian tahun berlalu dan pas reunian dia dapat komentar dari kebanyakan teman lain semacam: “nggak secantik dulu”, “badannya gendut sekarang”, “kenapa dia nggak tambah cantik ya sekarang” ...???

Sedangkan teman lain yang dulunya mungkin cenderung “biasa aja” karena tidak terlalu menonjol, tiba-tiba pas kuliah atau udah kerja jadi manglingin banget? Sampai biasanya dikomentarin, “yaampun si A cantik banget sekarang”, “wah gila sih nggak ngenalin, cakep banget” (?)

Padahal mungkin yang dulunya dibilang cantik itu tetep cantik, tapi dalam otak teman lain “seharusnya” dia nambah dong, cantiknya. (Luar biasa ya kita manusia, bisa mengharuskan orang lain 😂)

Dan yang sesungguhnya membunuh kecantikan itu toh ekspektasi kita sendiri terhadapnya.

Kembali pada sepenggal kisah rambut keriting.

Mbak ria bilang: penyeragaman oleh sistem masyarakat kita kadang tak mengijinkan kita untuk tumbuh berbeda, bahkan untuk mencintai tubuh yang kita miliki sejak lahir sekalipun.

Tapi adalah awal yang baik, untuk menyadarinya sekarang.

Yangti (nenek) saya, seorang wanita Jawa yang sangat nrimo (nerima) & sederhana, pernah bilang begini pada cucunya yang sering nggak pede sama jerawat dan ini itu:

“Lha wong ayu ki ra ana sing kudu.”
(Lha, emang perkara jadi cantik itu nggak ada yang “harus” kok)

Nggak ada yang harus. Nikmati aja.

Nikmati aja suka dukanya, nikmati pas jerawatan, nikmati pas merasa cantik, nikmati ketika tidak...

Karena sekalinya kita merasa terjebak dengan perasaan “harus”, disitulah masalah sebenarnya muncul.

“Jelek kamu!”

Lha yang bilang harus nggak jelek siapa??? Gitu kalau kata yangti saya 😂

Mungkin saya belum bisa merasa "selalu cukup” dengan diri saya seperti yangti Saya. Mungkin juga masih butuh bertahun-tahun bagi saya untuk bisa berdamai dengan definisi cantik, apapun itu.

Tapi dihari ini, dua cerita dari wanita yang saya kagumi tadi, menjadi penguat di hati.

Bahwa “Cantik itu tidak ada yang harus.”  ♥️ 
_____________
*By: Claradevi 
*Sebarkan ke teman cewek yang lain jika kamu merasa artikel ini bermanfaat
Baca ini juga:

0 Comments


EmoticonEmoticon