Kejutan Dari Kinan


Aku masih memeluk kedua lututku yang kutekuk saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.

Ros,” panggil seseorang dari luar. Itu suara Kinan, sahabatku. “Aku masuk, ya?” pintanya.

Mmm...” Aku hanya menjawab seadanya. Kinan pun masuk, kemudian duduk di sisi tempat tidurku.

Katanya kamu belum makan dari semalam ya?” tanyanya sambil menampakkan raut khawatir.

Pertanyaannya hanya kubalas dengan anggukan.

Butuh pendengar?” tanyanya lagi. Aku hanya diam. “Seingatku, terakhir kamu galau seperti ini tujuh tahun lalu, pas gak diijinin kuliah ke Korea. Terus yang sekarang galau kenapa?” Kinan tampak penasaran.

Aku menarik napas dalam kemudian membuangnya perlahan.
Rei mau nikah,” ujarku pelan.

Rei? Maksudmu Rei teman sekelas kita dulu?

Aku hanya mengangguk.

Kamu tahu dari mana?

Dia sendiri yang mengatakanya,” jawabku lemah.

Mata Kinan menatapku seakan meminta penjelasan. Aku mengganti posisi duduk menjadi bersila dan mulai menatap Kinan.

Tiga tahun lalu, sehari sebelum kita wisuda, Rei menyatakan perasaannya padaku dan aku menolaknya. Kamu tahu sendiri, Nan, saat itu aku belum tertarik untuk memiliki pasangan. Aku malah berpikir kalau Rei sungguh-sungguh, pasti dia akan menunggu hingga aku siap. Tapi sepertinya aku terlalu percaya diri.” Aku menengadahkan kepalaku sejenak, menahan air mata yang siap tumpah lagi.

Terus?” tanya Kinan sambil menyodorkan kotak tissue.

Kemarin Rei mengajakku bertemu. Aku sudah menyiapkan jawaban seandainya Rei mengutarakan hal yang sama seperti tiga tahun lalu. Nyatanya yang kudapat bukan lamaran, melainkan sebuah undangan.” Kuakhiri ceritaku sambil menutup wajah. Aku menangis lagi.

Kamu menyesal karena dulu menolak Rei?

Entahlah. Aku tidak merasa menyesal karena menolaknya. Toh, dulu aku memang tidak mencintainya.

Belum, Ros. Bukan tidak.” Kinan mengoreksi pernyataanku. “Nyatanya sekarang kamu mencintainya, kan?

Aku memilih diam, tak menjawab pertanyaan Kinan. Dan sepertinya Kinan juga sudah tahu jawabannya.

Sudah sore. Aku harus pulang,” ujar Kinan sambil bangkit dari tempat tidurku. “Jangan lupa makan, Ros. Rei pasti tidak ingin melihatmu semakin kurus di hari pernikahannya.” Kinan mengingatkan dengan nada bergurau.

Oh, iya. Undangan dari Rei belum kamu buka?” tanyanya lagi. Aku menggeleng lemah. “Kalau kamu sudah tenang, sudah mandi, dan sudah makan, bukalah undangan itu. Setidaknya kamu harus lihat tanggal pernikahannya, kan? Oke aku pergi dulu Ros.. Bye.” Kemudian Kinan menghilang di balik pintu.

Perkataan Kinan membuatku tergerak. Aku belum tahu kapan, di mana, dan yang paling penting, dengan siapa Rei akan menikah. Tanganku membuka laci dan meraih undangan berwarna abu-abu yang tersimpan di sana. Kubuka perlahan, lalu mataku membelalak menatap sepasang nama yang tertera di sana.

Menikah:
Reihan Adiswara & Kinan Larasati

06 Agustus 2016
Baca ini juga:

0 Comments


EmoticonEmoticon